Selamat Datang di Blog Stefanus Sule Tandi - Blog "PENDIDIKAN DAN GERAKAN PRAMUKA" - Salam Damai

Minggu, 08 November 2015

Sekilas Tentang KMD dan KML


Salam Pramuka!

Salah satu jenjang pendidikan dan pelatihan dalam Gerakan Pramuka bagi anggota dewasa adalah Kursus Mahir bagi para Pembina. Kursus ini terdiri atas dua jenjang yaitu: Kursus Pembina Mahir Tingkat Dasar (KMD) dan Kursus Pembina Mahir Tingkat Lanjutan (KML).

KMD diperuntukkan bagi para Pembina Gugusdepan atau Calon Pembina Gugusdepan, Anggota Mabi, Andalan Kwartir, dan Orang Dewasa lainnya yang telah atau pernah menjadi anggota Pramuka baik Siaga, Penggalang, maupun Penegak/Pandega dan memiliki kemauan untuk menjadi seorang Pembina Pramuka.

Setiap lulusan KMD wajib melaksanakan masa pengembangan yang disebut Narakarya I. Pada tahap ini lulusan KMD wajib mempraktekkan apa yang telah didapatkan dari KMD pada Gugusdepannya didampingi oleh Pelatih Pembina. Masa Narakarya I ini minimal dilaksanakan selama 6 bulan dan bagi Pembina yang telah melaksanakan masa pengembangan ini berhak mendapatkan Surat Hak Bina (SHB) dan dapat mengikuti jenjang Kursus Pembina Mahir Tingkat Lanjutan (KML).

Pada jenjang KML, lulusan KMD akan memilih spesialisasi yakni Pembina Siaga, Pembina Penggalang, Pembina Penegak, atau Pembina Pandega. Lulusan KML juga wajib melakukan masa pemantapan yang disebut Narakarya II. Pada tahap ini seorang Pembina melakukan pemantapan pada satuan yang menjadi binaannya minimal 6 bulan dan didampingi oleh Pelatih Pembina. Setelah melaksanakan Narakarya II Pembina dapat dikukuhkan menjadi Pembina Mahir oleh Pusdiklacab dan mengenakan Selendang Mahir dan Pita Mahir sesuai dengan golongannya yaitu Mahir Siaga, Mahir Penggalang, Mahir Penegak, atau Mahir Pandega.

KMD dan KML dilaksanakan oleh Pusdiklacab dan kedua tingkatan Kursus Pembina ini merupakan dua jenjang yang saling berkesinambungan dan melengkapi.



Sekian sekilas tentang alur KMD dan KML bagi para Pembina Pramuka.
Salam Damai!

Kamis, 02 Juli 2015

Struktur Organisasi Gugusdepan


Salam Pramuka!

Berikut ini adalah Struktur Organisasi Gerakan Pramuka yang berpangkalan pada Gugusdepan berdasarkan Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor: 231 Tahun 2007 tentang Petunjuk Penyelenggaraan Gugusdepan Gerakan Pramuka.

Ditinjau dari kelengkapan satuannya Gugusdepan (Gudep) terdiri atas dua macam yaitu: Gudep lengkap dan Gudep tidak lengkap. Gudep Lengkap yakni pangkalan yang keanggotaannya terdiri atas Perindukan Siaga, Pasukan Penggalang, Ambalan Penegak, dan Racana Pandega; sedangkan Gudep tidak lengkap yakni pangkalan yang keanggotaannya hanya terdiri atas satu atau dua atau tiga golongan saja, misalnya Gudep yang berpangkalan di sekolah dasar (SD) yang hanya memiliki Perindukan Siaga dan Pasukan Penggalang, Gudep yang berpangkalan di sekolah menengah (SMP/SMA) yang keanggotaannya hanya terdiri atas Pasukan Penggalang atau Ambalan Penegak saja.

Unsur-unsur yang ada pada struktur organisasi Gugusdepan sebagai berikut:
  1. Majelis Pembimbing Gugusdepan
  2. Ketua / Pembina Gugusdepan
  3. Tim Pembina Satuan
  4. Dewan Kehormatan Gugusdepan
  5. Badan Pemeriksa Keuangan Gugusdepan (BPKG)

Majelis Pembimbing Gugusdepan (Mabigus) 
Mabigus berasal dari unsur-unsur: orang tua pesertadidik, tokoh-tokoh masyarakat di lingkungan Gugusdepan yang memiliki perhatian dan rasa tanggung jawab terhadap Gerakan Pramuka serta mampu menjalankan peran Majelis Pembimbing. Ketua Gudep secara ex-officio adalah anggota Mabigus. Ketua Mabigus dipilih dari anggota Mabigus yang ada. Mabigus terdiri atas: 

  • Ketua, 
  • Wakil Ketua, 
  • Sekretaris, 
  • Ketua Harian (bila perlu), 
  • dan beberapa Anggota. 


Ketua/ Pembina Gugusdepan 
Ketua Gudep dipilih untuk satu kali masa jabatan dan dapat dipilih kembali pada Musyawarah Gudep (Mugus) berikutnya. Ketua Gudep memimpin Gudep dan diupayakan maksimal dua periode secara berturut-turut.


Tim Pembina Satuan
Tim Pembina Satuan terdiri atas satu orang Pembina Penggalang (untuk pasukan Penggalang) dan dua orang Pembantu Pembina. Ketua Gudep dapat merangkap sebagai Pembina Satuan.


Dewan Kehormatan Gugusdepan
Dewan Kehormatan beranggotakan lima orang yang terdiri atas unsur anggota Mabigus, Ketua Gudep, Pembina Satuan. Berikut adalah susunan Dewan Kehormatan Gudep:

  • Ketua
  • Wakil Ketua
  • Sekretaris
  • Anggota (dua orang)


Badan Pemeriksa Keuangan Gugusdepan (BPKG)
Badan Pemeriksa Keuangan Gugusdepan adalah badan yang independen yang dibentuk oleh Mugus dan bertanggung jawab kepada Mugus dan dilantik bersamaan dengan Pengurus Gudep. Berikut adalah susunan BPKG:

  • Ketua
  • Wakil Ketua
  • Sekretaris
  • Beberapa Anggota


Dibawah ini adalah contoh "Bagan" Organisasi Gugusdepan yang berpangkalan di Sekolah Menengah Pertama (SMP)/ Gudep tidak lengkap. Anggota Putera dan Puteri dihimpun dalam Gudep "terpisah", masing-masing Gudep berdiri sendiri. Nomor Gudep untuk Putera bernomor ganjil dan untuk puteri bernomor genap.




Untuk lebih jelasnya tugas dan tanggung jawab pengurus Gugusdepan dapat dibaca pada Petunjuk Penyelenggaraan Gugusdepan Gerakan Pramuka. Demikian sekilas tentang struktur organisasi Gugusdepan, semoga bermanfaat dan "Salam Damai".

Minggu, 28 Juni 2015

Peraturan Baris Berbaris (PBB)


Salam Pramuka!

Peraturan Baris Berbaris dalam Kepramukaan mengikuti aturan TNI-POLRI. Baris berbaris adalah suatu wujud latihan fisik, diperlukan guna menanamkan kebiasaan dalam cara hidup "anggota Pramuka" yang diarahkan kepada terbentuknya suatu perwatakan tertentu. 

Berikut adalah beberapa poin yang saya kutip dari Skep. Menhankam/ Pangab No. 611/X/1985 tentang Peraturan Baris Berbaris dan dari Pedoman Penggunaan Tongkat Pramuka dalam Baris Berbaris  Gerakan Pramuka - Kwarnas tahun 1981.


1. Aba-aba

Aba-aba adalah perintah yang diberikan oleh seorang pimpinan pasukan kepada pasukan/ barisan untuk dilaksanakan pada waktunya secara serentak atau berturut-turut. Aba-aba terdiri dari 3 bagian dengan urutan:

1) Aba-aba petunjuk: berisikan petunjuk yang akan dilakukan/ dilaksanakan. Misalnya: "untuk istirahat - bubar - jalan", "untuk perhatian - istirahat di tempat - gerak", "kepada pemimpin upacara - hormat - gerak"

2) Aba-aba peringatan: adalah inti dari perintah yang cukup jelas untuk dapat dilaksanakan tanpa ragu-ragu. Misalnya: "lencang kanan - gerak", "istirahat di tempat - gerak".

3) Aba-aba pelaksanaan: adalah ketegasan mengenai saat untuk melaksanakan aba-aba petunjuk/ peringatan dengan cara serentak atau berturut-turut. Aba-aba pelaksanaan yang dipakai adalah GERAK, JALAN, MULAI.

Kata "Gerak" dipakai untuk gerakan-gerakan yang dilakukan tanpa meninggalkan tempat, misalnya: "hadap kiri - gerak", "jalan di tempat - gerak", "hormat - gerak", "siap - gerak". Kata "Jalan" dipakai untuk gerakan-gerakan yang dilakukan dengan meninggalkan tempat, misalnya: "dua langkah ke depan - jalan", "haluan kanan - jalan", "tiga langkah ke kiri - jalan". Apabila gerakan meninggalkan tempat tidak dibatasi jaraknya, maka aba-aba pelaksanaanya harus didahului oleh aba-aba peringatan "MAJU", misalnya: "Maju - jalan", "Haluan kanan maju - jalan". Kata "Mulai" dipakai pada pelaksanaan perintah yang harus dikerjakan secara berturut-turut, misalnya: "Hitung - Mulai", "Bersaf kumpul - Mulai".

Aba-aba hendaknya diberikan dengan suara lantang, tegas dan bersemangat. Pemberi aba-aba pada dasarnya harus berdiri dalam keadaan sikap sempurna dan menghadap pasukan. Apabila aba-aba itu berlaku juga untuk si pemberi aba-aba maka pada saat memberikan aba-aba tidak menghadap pasukan, contoh: saat memberi aba-aba penghormatan kepada Pembina upacara, pemimpin melakukan gerakan bersamaan dengan pasukan dan setelah dibalas oleh Pembina upacara maka pemimpin upacara tetap dalam posisi memberi hormat dan memberikan aba-aba - Tegak Gerak - dan kembali ke posisi sikap sempurna bersamaan dengan pasukan.


2. Gerakan di tempat

Gerakan di tempat meliputi:

Sikap Sempurna
Badan berdiri tegap, kedua tumit rapat, kedua kaki merupakan sudut 45 derajat, lutut lurus dan paha dirapatkan, berat badan pada kedua kaki. Perut ditarik sedikit dan dada dibusungkan, pundak ditarik sedikit ke belakang dan tidak dinaikkan. Lengan rapat pada badan, pergelangan tangan lurus, jari-jari tangan menggenggam tidak terpaksa dirapatkan pada paha, punggung ibu jari menghadap ke depan, mulut ditutup, mata memandang lurus ke depan, bernafas sewajarnya.

Penghormatan
Ujung jari tangan kanan diletakkan pada samping pelipis kanan (tidak memakai topi) atau pada ujung topi sebelah kanan (memakai topi/ baret), siku membantuk sudut 45 derajat lurus setinggi bahu. Posisi badan dan tangan kiri seperti pada sikap sempurna.

Lencang kanan/kiri
Gerakan ini dijalankan dalam sikap sempurna. Pada aba-aba pelaksanaan semua mengangkat lengan kanan/kiri ke samping kanan/kiri, jari-jari tangan menggenggam, punggung tangan menghadap ke atas bersama dengan ini kepala dipalingkan ke kanan/kiri kecuali penjuru tetap menghadap ke depan. Masing-masing jari menyentuh bahu orang disebelah kanan/kirinya. Ini dilakukan dalam barisan bersaf.

Setengah lengan lencang kanan/kiri
Gerakan ini dilakukan seperti pada gerakan lencang kanan/kiri, tetapi tangan kanan/kiri di pinggang (bertolak pinggang) dengan siku menyentuh lengan orang yang berdiri di sebelah kanan/kirinya.

Lencang depan
Gerakan ini dilakukan dalam barisan berbanjar. Penjuru tetap dalam sikap sempurna, banjar kanan nomor dua dan seterusnya meluruskan ke depan dengan mengangkat tangan kanan.

Hadap kanan/kiri
Kaki kiri/kanan diajukan melintang di depan kaki kanan/kiri, lekuk kaki kiri/kanan berada di ujung kaki kanan/kiri, berat badan berpindah ke kaki kiri/kanan. Tumit kaki kanan/kiri dengan badan diputar ke kanan/kiri 90 derajat. Kaki kanan/kiri seperti dalam keadaan sikap sempurna.

Hadap serong kanan/kiri
Kaki kanan/kiri diajukan ke muka sejajar dengan kaki kiri/kanan. Berputar arah 45 derajat ke kanan/kiri. kaki kiri/kanan dirapatkan kembali ke kaki kanan/kiri.

Balik kanan
Kaki kiri diajukan melintang (lebih dalam dari hadap kanan) di depan kaki kanan. Tumit kaki kanan beserta dengan badan berputar ke kanan 180 derajat. Kaki kiri dirapatkan pada kaki kanan.

Istirahat di tempat
Kaki kiri dipindahkan ke samping kiri dengan jarak sepanjang telapak kaki (kurang lebih 30cm). Kedua belah tangan dibawah kebelakang di pinggang, punggung tangan kanan di atas telapak tangan kiri, tangan kanan dikepal dengan dilemaskan, tangan kiri memegang pergelangan tangan kanan diantara ibu jari dan telunjuk serta kedua lengan dilemaskan, badan dapat bergerak.

Jalan di tempat
Gerakan dimulai dengan kaki kiri, lutut bergantian diangkat setinggi paha (horisontal), ujung kaki menuju kebawah dan tempo langkah sesuai dengan langkah biasa. Badan tegak pandangan lurus mata tetap ke depan, lengan tetap lurus dirapatkan pada badan (tidak dilenggangkan).


3. Gerakan berpindah tempat

Gerakan berpindah tempat meliputi:

Gerakan terbatas
Gerakan ini dilakukan dengan berpindah tempat ke arah yang ditentukan dengan jumlah langkah tertentu, misalnya: "tiga langkah ke kanan-jalan", "empat langkah ke depan-jalan" (maksimal 4 langkah).

Maju jalan
Kaki kiri diajukan kedepan, lutut lurus, telapak kaki diangkat rata sejajar dengan tanah setinggi kurang lebih 20cm, kemudian dihentakkan ke tanah dengan jarak satu langkah dan selanjutnya berjalan dengan langkah biasa. Langkah pertama dilakukan dengan melangkah lengan kanan ke depan 90 derajat, lengan kiri ke belakang 30 derajat dengan tangan menggenggam. Pada langkah selanjutnya lengan kanan dan kiri lurus dilenggangkan ke depan 45 derajat dan ke belakang 30 derajat. Pada waktu melenggangkan lengan supaya jangan kaku.

Langkah biasa
Pada waktu berjalan, kepala dan badan seperti pada waktu sikap sempurna. Waktu mengayunkan kaki ke depan lutut kaki dibengkokkan sedikit (kaki tidak diseret). Kemudian diletakkan ke tanah menurut jarak yang telah ditentukan. Lengan dilenggangkan sewajarnya lurus ke depan 45 derajat dan ke belakang 30 derajat. Jari-jari tangan digenggam dengan tidak terpaksa, punggung ibu jari menghadap ke atas.

Langkah tegap
Mulai berjalan dengan kaki kiri, langkah pertama selebar satu langkah, selanjutnya seperti jalan biasa (panjang dan tempo) dengan cara kaki kiri dihentakkan terus menerus tetapi tidak berlebihan, telapak kaki rapat dan sejajar dengan tanah, lutut lurus, kaki tidak boleh diangkat tinggi. Bersamaan dengan langkah pertama tangan menggenggam, punggung tangan menghadap ke samping luar, ibu jari tangan menghadap ke atas, lengan 90 derajat ke depan dan ke belakang 30 derajat.

Langkah perlahan
Gerakan dilakukan dengan sikap sempurna. Kaki kiri dilangkahkan ke depan, kaki kanan ditarik ke depan dan tahan sebentar di sebelah mata kaki kiri, kemudian dilanjutkan ditapakkan didepan demikian seterusnya pada langkah berikutnya bergantian pada kedua langkah kaki kanan dan kiri.

Langkah merdeka
Dilakukan dengan berjalan bebas tanpa terikat ketentuan panjang, macam, dan tempo langkah. Langkah merdeka biasanya dilakukan untuk menempuh jarak jauh.

Belok kanan/kiri
Penjuru kanan/kiri merubah arah 90 derajat ke kanan/kiri dan mulai berjalan ke arah yang baru. Pasukan lainnya mengikuti gerakan yang sama ini setibanya pada tempat belokan tersebut (tempat penjuru berbelok).

Haluan kanan/kiri
Penjuru kanan/kiri berjalan di tempat dengan memutar arah secara perlahan hingga merubah sampai 90 derajat. Bersamaan dengan itu masing-masing saf mulai maju jalan dengan rapi (dengan tidak melenggang) mengikuti 90 derajat, kemudian berjalan ditempat.  Setelah penjuru kanan/kiri depan melihat safnya lurus memberi isyarat "Lurus", kemudian pemimpin memberi aba-aba "henti" (atau aba-aba selanjutnya).

Melintang kanan/kiri
Gerakan ini hanya dilakukan dalam bentuk berbanjar guna merubah bentuk pasukan menjadi bersaf dalam arah yang tetap. Setelah aba-aba pelaksanaan barisan membuat gerakan "haluan kiri/kanan" sampai membentuk barisan bersaf (dilanjutkan dengan aba-aba berikutnya).

Lari
Pada aba-aba peringatan dua tangan dikepalkan dengan lemas dan diletakkan di pinggang sebelah depan, dengan punggung tangan menghadap keluar, kedua siku sedikit ke belakang, badan agak dicondongkan ke depan. Pada aba-aba pelaksanaan dimulai lari dengan panjang langkah 80 cm dan tempo langkah 165 tiap menit dengan cara kaki diangkat secukupnya, telapak kaki dihentakkan.

Catatan:
Untuk lebih jelasnya, pada saat latihan ada baiknya bekerjasama dengan instruktur atau pelatih dari TNI atau POLRI setempat atau paling tidak mengadakan konsultasi dengan pihak yang kompeten dibidang PBB.


4. Panjang, Tempo, dan Macam Langkah

  • Langkah biasa: panjang 65 cm, tempo 110/menit
  • Langkah tegap: panjang 65 cm, tempo 110/menit
  • Langkah perlahan: panjang 40 cm, tempo 30/menit
  • Langkah ke kanan/kiri: panjang 40 cm, tempo 70/menit
  • Langkah ke belakang: panjang 40 cm, tempo 70/menit
  • Langkah ke depan: panjang 60 cm, tempo 70/menit
  • Langkah di waktu lari: panjang 80 cm, tempo 165/menit


5. Gerakan dengan menggunakan Tongkat Pramuka

Nah, berikut ini adalah PBB dengan menggunakan tongkat pramuka. Pramuka golongan Penggalang identik dengan tongkat pramuka, panjang tongkat pramuka adalah 160cm dengan diameter 5cm. Pada tongkat Pimpinan Regu dipasangkan Bendera Regu sesuai dengan nama regunya. Berikut adalah sikap saat menggunakan tongkat pramuka berdasarkan Pedoman Penggunaan Tongkat Pramuka dalam baris-berbaris oleh Kwarnas tahun 1981:

Sikap Sempurna
Tongkat dipegang tangan kanan seperti memegang pensil saat menulis. Tongkat tegak lurus berdiri di atas tanah di samping sepatu sebelah kanan.

Sikap saat melakukan gerakan
Tongkat diangkat lurus ke atas, dengan tangan menggenggam setinggi ikat pinggang, posisi ini dilakukan saat memberi salam, hadap kanan/kiri, balik kanan, dan langkah terbatas.

Sikap saat memberikan salam
Tongkat diangkat lurus ke atas dengan tangan menggenggam setinggi ikat pinggang. Tangan kiri diletakkan rata depan dada, telapak tangan menghadap kebawah, ujung ibu jari menempel pada tongkat dan pandangan lurus menuju kepada yang diberi salam.

Sikap memberi salam hormat dan salam janji
Tongkat dipindahkan dari tangan ke tangan kiri, dimiringkan didepan dada dengan bagian atasnya ke kiri. Tangan kanan memberi Salam Hormat atau Salam Janji.

Sikap untuk gerakan "maju jalan atau lari jalan"
Tongkat dipegang tangan kanan dan tangan kiri didepan dada dimiringkan dengan bagian atasnya ke kiri. Tangan kanan setinggi pinggang, tangan kiri depan dada sebelah kiri.

Sikap istirahat ditempat
Kaki kanan dan kaki kiri direnggangkan. Tangan kanan memegang tongkat yang dimiringkan dengan bagian atasnya ke kanan. Tangan kiri bebas mengepal dibelakang pinggang.

Sikap lencang kanan
Tongkat dipindahkan dari tangan kanan ke tangan kiri, dimiringkan kedepan dada dengan bagian atasnya ke kiri. Tangan kanan mengambil jarak satu lengan, tangan mengepal dan menyentuh bahu kiri kawan yang disebelahnya. Pandangan melihat kek kanan dan luruskan.

Demikian secara singkat tentang PBB dalam latihan kepramukaan, semoga bermanfaat. Selamat berlatih dan "Salam Damai".

Selasa, 10 Februari 2015

Manfaat "Outbound" Bagi Peserta Didik


Salam Pramuka!

Outbound merupakan salah satu kegiatan di alam terbuka yang paling digemari oleh peserta didik. Outbound adalah suatu kegiatan yang dilakukan di alam terbuka dengan beberapa simulasi permainan baik secara individu maupun secara berkelompok. Outbound ini muncul pertama kali dari ide pendidikan inovatif Kurt Hahn, seorang berkebangsaan Jerman yang lahir di Berlin pada tanggal 5 Juni 1886.

Outbound merupakan bentuk pembelajaran perilaku kepemimpinan dan manajemen di alam terbuka dengan pendekatan yang unik dan sederhana, tidak sarat dengan teori melainkan diambil dari elemen-elemen mendasar dari kehidupan sehari-hari. Dengan menggunakan dimensi alam sebagai objek pendidikan dan tempat bermain yang mengasyikkan dapat memunculkan sikap saling percaya, saling memperhatikan, sikap proaktif dan komunikatif.


Manfaat dari Outbound bagi peserta didik anggota Gerakan Pramuka yakni dapat:
  1. mengembangkan kemampuan apresiasi atau penghargaan terhadap perbedaan dalam sebuah kelompok. 
  2. meningkatkan jiwa kebersamaan dan kekompakan regu atau team. 
  3. memupuk jiwa kepemimpinan, kemandirian, keberanian dan percaya diri.
  4. membangkitkan rasa tanggungjawab dan empati terhadap sesama.
  5. memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik. 
  6. menumbuhkan sportifitas atas kesuksesan dan kegagalan. 
  7. menumbuhkan optimisme dan tidak saling menyalahkan tentang kegagalan team/ regu. 
  8. memberikan tantangan intelegensia, fisik, dan mental.
  9. membangkitkan kesadaran untuk terus berlatih dan membekali dirinya dalam menghadapi tantangan yang lebih nyata dalam kehidupannya. 
  10. memupuk ide kreatif untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.

Metode pembelajaran Outbound adalah permainan sebagai bentuk penyampaiannya, dimana kemampuan individu tidak hanya ditantang untuk berfikir cerdas namun juga harus memiliki kepekaan sosial. Dengan latar alam terbuka diharapkan peserta didik dapat melahirkan kemampuan dan watak kepemimpinan yang mengandung nilai-nilai kejujuran, keterbukaan, toleransi, kepekaan yang mendalam, kecerdasan, serta rasa kebersamaan dalam membangun hubungan antar manusia yang serasi dan dinamis.

Berikut adalah contoh kegiatan Outbound dan ringkasan cara bermainnya:

1. Kereta Buta

Cara bermain: semua anggota regu/ team membentuk satu barisan dan memakai penutup mata (boleh dari kain atau bahan yang tidak tembus pandang) kecuali anggota yang paling belakang dalam barisan itu. Regu ini berlomba untuk mencari bola yang diletakkan secara acak, kereta buta ini dipimpin oleh anggota paling belakang untuk menentukan arah yang tepat menuju bola yang ditentukan. Kemudian kerta buta/ masing-masing regu kembali memasukkan bola kedalam tempat yang ditentukan. Regu yang pertama menyelesaikannya, merekalah pemenangnya.


2. Memindahkan Bom

Cara bermain: Sebuah bola (boleh alat lain) diletakkan pada posisi tertentu, masing-masing anggota regu memegang seutas tali secara berpasangan dengan jarak tertentu. Semua anggota regu berusaha memindahkan bola ke tempat yang ditentukan dengan menggunakan tali tanpa menyentuh bola dengan tangan. Jika bola jatuh berarti bom meledak dan regu tersebut dinyatakan gagal. Regu yang pertama berhasil memindahkan bom (bola) adalah pemenangnya.


3. Pipa Bocor

Cara bermain: Sebuah pipa yang sudah diberi beberapa lubang pada bagian sampingnya, akan diisi dengan air sampai penuh. Tugas anggota regu adalah menutup dan mengisi pipa dengan air sampai penuh secara bergantian. Jarak sumber air ditentukan agar lebih menantang, regu yang pertama menyelesaikan tugasnya itulah pemenangnya.


4. Evakuasi Bambu

Cara bermain: Sebuah bambu berisi air penuh, ditempatkan pada posisi tertentu. Masing-masing anggota regu berusaha memindahkan bambu berisi air ke tempat yang ditentukan tanpa menjatuhkan bambu atau air didalamnya dengan menggunakan tali (boleh alat lain). Yang pertama menyelesaikannya itulah pemenangnya.


5. Jembatan Karet

Cara bermain: Tiga buah ban (ban mobil/ motor bekas) digunakan untuk menyeberangi sungai (pengandaian saja), semua anggota regu berusaha untuk menyeberang dengan jembatan karet (3 buah ban) sampai ke batas yang ditentukan. Regu yang gagal atau jatuh harus mengulanginya dari awal. Regu pertama yang berhasil itulah pemenangnya.

Kegiatan Outbound diatas boleh dikreasikan agar lebih menarik lagi, alat dan bahannya boleh diganti sesuai dengan keadaaan atau kebutuhan dan tujuan yang akan dicapai. Semakin menantang kegiatan outbound itu akan semakin baik, menarik, dan tidak membosankan. Kita bisa menciptakan kreasi sendiri asalkan tidak menyalahi tujuan pendidikan Gerakan Pramuka.

Demikian sekilas tentang Outbound, semoga bermanfaat.
"Salam Damai"


Rabu, 28 Januari 2015

Upacara Pelantikan Pramuka Penggalang


Salam Pramuka!

Upacara pelantikan calon Pramuka Penggalang menjadi Pramuka Penggalang (Penggalang tingkat Ramu) dilaksanakan didalam upacara pembukaan latihan. Peserta didik yang akan dilantik adalah mereka yang sudah menyelesaikan Syarat Kecakapan Umum tingkat Ramu. Upacara ini dapat dilaksanakan secara berkelompok atau secara mandiri/ perorangan, tergantung pada pencapaian SKU peserta didik.

Proses pelantikan anggota Pramuka hendaknya dilaksanakan secara khidmat dan tertib agar tercapai tujuan upacara sebagai alat pendidikan dalam Gerakan Pramuka.


Upacara ini dilaksanakan dengan urutan acara sebagai berikut:

  1. Calon Penggalang diantar oleh Pemimpin Regunya kehadapan Pembina Penggalang, selanjutnya Pinru kembali ke tempat.
  2. Para Pramuka Penggalang yang sudah dilantik maju satu langkah.
  3. Pembina mengadakan tanya jawab dengan calon yang akan dilantik.
  4. Calon yang akan dilantik berdoa dipimpin oleh Pratama.
  5. Bendera Merah Putih dibawah masuk oleh petugas ke sebelah kanan depan dari Pembina, dan penghormatan dipimpin oleh Pratama.
  6. Calon dengan sukarela mengucapkan janji "Tri Satya" dengan tangan kanan memegang ujung Bendera Merah Putih dan ditempelkan pada dada sebelah kiri. (pada saat pengucapan janji semua anggota pasukan melakukan penghormatan dipimpin oleh Pratama)
  7. Petugas pembawa bendera kembali ke tempat, penghormatan dipimpin oleh Pratama. 
  8. Penyematan tanda pelantikan dan TKU Penggalang Ramu disertai nasehat/ arahan tentang tanggungjawab sebagai anggota Gerakan Pramuka oleh Pembina.
  9. Pemberian selamat kepada yang sudah dilantik (anggota baru) dimulai dari Pratama dan diikuti semua anggota.
  10. Pemimpin Regu menjemput anggotanya kembali ke regunya.
  11. Pembina menyerahkan pasukan kepada Pratama.
  12. Pratama memimpin penghormatan kepada Pembina Upacara.
  13. Pembina Upacara meninggalkan lapangan upacara.
  14. Pratama membubarkan barisan, dilanjutkan dengan latihan.

Upacara kenaikan tingkat dari Penggalang Ramu ke Penggalang Rakit, atau Penggalang Rakit ke Penggalang Terap dilakukan dengan proses yang sama. Perbedaannya ada pada penyematan TKU dimana TKU lama dilepaskankan terlebih dahulu kemudian disematkan TKU baru sesuai dengan tingkatannya. Untuk penyematan TKK, TKK lama tidak perlu dilepaskan. Jika TKK peserta didik sudah mencapai 5 buah maka TKK selanjutnya disematkan pada tetampang atau selempang.

Berikut adalah formasi barisan upacara pelantikan, upacara kenaikan tingkat untuk Pramuka Penggalang:



Sekian tentang Upacara Pelantikan anggota Gerakan Pramuka Golongan Penggalang. Semoga berguna.
"Salam Damai"


Senin, 12 Januari 2015

Upacara Pembukaan dan Penutupan Latihan


Salam Pramuka!

Upacara adalah serangkaian perbuatan yang ditata dalam suatu ketentuan peraturan yang wajib dilaksanakan dengan khidmat sehingga merupakan kegiatan yang teratur dan tertib, untuk membentuk suatu tradisi dan budi pekerti yang baik.

Tujuan upacara dalam Gerakan Pramuka adalah membentuk manusia yang berbudi pekerti luhur sehingga menjadi warga negara Indonesia yang berjiwa Pancasila seperti yang tercantum dalam tujuan Gerakan Pramuka (AD GP).

Sebelum memulai dan sesudah melaksanakan latihan, wajib untuk melaksanakan upacara. Upacara yang dilaksanakan sebelum latihan disebut upacara pembukaan latihan (Upabuklat) dan upacara yang dilaksanakan sesudah latihan disebut upacara penutupan latihan (Upatuplat). Sasaran upacara dalam Gerakan Pramuka ialah agar peserta didik: memiliki rasa cinta tanah air, bangsa dan negara; memiliki rasa tanggungjawab dan disiplin pribadi; selalu tertib dalam kehidupan sehari-hari; memiliki jiwa gotong royong dan percaya kepada orang lain; dapat memimpin dan dipimpin; dapat melaksanakan upacara dengan khidmat dan tertib; meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Unsur-unsur pokok dalam upacara Gerakan Pramuka ialah: Bentuk barisan, Pengibaran Bendera Merah Putih, Pembacaan Pancasila, Pembacaan Kode Kehormatan, Doa. Berikut adalah tata upacara dalam Pasukan Pramuka Penggalang.

1. Upacara Pembukaan Latihan

Perlengkapan upacara:
  1. Bendera Merah Putih
  2. Tiang Bendera (tongkat yang disambung tiga)
  3. Teks Pancasila
  4. Teks Dasadarma
Pelaksana upacara:
  1. Pemimpin upacara (Pratama): 1 orang
  2. Pembina upacara: 1 orang
  3. Pengibar Bendera: 3 orang
  4. Pembaca Dasadarma: 1 orang
Persiapan:
  1. Pemeriksaan kerapian, absensi, oleh masing-masing pimpinan Regu.
  2. Pembagian tugas pelaksana dan persiapan perlengkapan upacara oleh regu yang bertugas.
  3. Pratama membentuk barisan angkare dan memeriksa kerapian barisan upacara.
Pelaksanaan Upacara Pembukaan Latihan:
  1. Laporan masing-masing Pimpinan regu kepada Pratama (sebelum laporan, Pinru paling kanan memimpin penghormatan kepada Pratama).
  2. Pratama menjemput Pembina Upacara sekaligus laporan bahwa upacara siap dilaksanakan.
  3. Pembina Upacara mengambil tempat di samping kanan belakang tiang bendera dan Pembantu Pembina berada dibelakang Pembina Upacara dalam bentuk barisan bersaf.
  4. Pembina Upacara melangkah satu langkah, penghormatan dipimpin oleh Pratama dan diikuti seluruh perserta upacara.
  5. Pratama menyerahkan Pasukan kepada Pembina Upacara, dan kembali ke tempatnya/ regunya.
  6. Pengibaran Bendera Merah Putih oleh petugas bendera, penghormatan dipimpin oleh Pembina Upacara.
  7. Pembacaan teks Pancasila oleh Pembina Upacara.
  8. Pembacaan Dasadarma oleh yang bertugas.
  9. Kata pengantar dari Pembina Upacara tentang tema atau acara latihan.
  10. Doa dipimpin oleh Pembina Upacara.
  11. Pasukan diserahkan kepada Pratama, penghormatan kepada Pembina Upacara dipimpin oleh Pratama.
  12. Pembina Upacara meninggalkan lapangan upacara dan mengucapkan terima kasih kepada Pembantu Pembina.
  13. Pratama membubarkan barisan upacara untuk mengikuti latihan.

2. Upacara Penutupan Latihan

Perlengkapan upacara:
  1. Bendera Merah Putih
  2. Tiang Bendera (tongkat yang disambung tiga)
Pelaksana upacara:
  1. Pemimpin upacara (Pratama): 1 orang
  2. Pembina upacara: 1 orang
  3. Penurun Bendera: 3 orang
Persiapan:
  1. Pemeriksaan kerapian oleh masing-masing pimpinan Regu.
  2. Pembagian tugas pelaksana dan persiapan perlengkapan upacara oleh regu yang bertugas.
  3. Pratama membentuk barisan angkare dan memeriksa kerapian barisan upacara.
Pelaksanaan Upacara Pembukaan Latihan:
  1. Laporan masing-masing Pimpinan regu kepada Pratama (sebelum laporan, Pinru paling kanan memimpin penghormatan kepada Pratama).
  2. Pratama menjemput Pembina Upacara sekaligus laporan bahwa upacara siap dilaksanakan.
  3. Pembina Upacara mengambil tempat di samping kanan belakang tiang bendera dan Pembantu Pembina berada dibelakang Pembina Upacara dalam bentuk barisan bersaf.
  4. Pembina Upacara melangkah satu langkah, penghormatan dipimpin oleh Pratama dan diikuti seluruh perserta upacara.
  5. Pratama menyerahkan Pasukan kepada Pembina Upacara, dan kembali ke tempatnya/ regunya.
  6. Penurunan Bendera Merah Putih oleh petugas bendera, penghormatan dipimpin oleh Pembina Upacara. (Saat penurun bendera kembali ke tempatnya tidak boleh balik kanan).
  7. Kata arahan dari Pembina Upacara tentang pelaksanaan latihan atau acara latihan berikutnya.
  8. Doa dipimpin oleh Pembina Upacara.
  9. Pasukan diserahkan kepada Pratama, penghormatan kepada Pembina Upacara dipimpin oleh Pratama.
  10. Pembina Upacara meninggalkan lapangan upacara dan mengucapkan terima kasih kepada Pembantu Pembina.
  11. Pratama membubarkan barisan upacara.

Berikut adalah gambar formasi barisan upacara latihan Pramuka Penggalang:



Demikianlah tata Upacara Pembukaan dan Penutupan Latihan Pramuka golongan Penggalang. Semoga berguna.
"Salam Damai"